Kamis, 08 April 2010

Pemimpin Dibentuk atau Dilahirkan

Ketika saya kecil saya mempunyai seorang yang saya kagumi, sebut saja namanya Sutoyo. Ia kami kagumi karena ialah pemimpin kami. Apa saja yang ia perintahkan, rasanya kami, anak-anak kampung itu patuh padanya.
Ketika musim kerja bakti, yang di kampung kami dinamakan dengan “gugur gunung,” ia mampu menggerakkan anak-anak untuk ikut kegiatan gotong royong itu. Ketika di kota kami ada perlombaan keindahan gapura, ia mampu menggerakkan kami untuk begadang sepanjang malam menghias gapura itu.
Ketika kami menghadapi keroyokan dari anak-anak kampung lain, ia mampu menggalang kekuatan kami untuk melawan mereka. Rasanya, waktu itu, ia seperti jadi pelindung kami, padahal orang tuanya hanya pedagang kecil di pasar, sementara saya, anak seorang polisi, tidak sepemberani seperti dia.
Jaman berputar begitu cepat, dan nampaknya ia kurang beruntung. Karena keadaan, ia tidak mampu melanjutkan sekolah, dan berita yang saya dengar, ia sekarang jadi makelar di terminal. Yang ia teriakkan hanyalah kata-kata, “Mas Jogjane, Jogja-Jogja, Semarang, sebentar lagi bisnya berangkat lho...”
Teman saya yang lain, sebut saja namanya Untung, adalah anak yang penakut. Tubuhnya kerempeng. Ia sering kita jadikan ejekan karena penakutnya. Gara-gara tubuhnya yang tinggi, kerempeng, ia sering kita sebut sebagai wandu, banci. Selalu saja ia menjadi suruhan anak-anak lain. Dijalaninya perintah anak-anak lain karena ia memang takut berkelahi.
Roda jaman menggilas dengan cepatnya. Entah bagaimana caranya, ia mampu masuk Akabri. Badannya yang tadinya kerempeng ternyata berubah menjadi tegap. Kabarnya, ia menjadi pemberani. Kami, kawan-kawannya, masih sering membayangkan bagaimana bisa Untung yang penakut bisa jadi perwira. Kabar yang paling akhir, ia ternyata mampu jadi komandan yang tegas, pemberani dan efektif.
Anak pertama tadi, mungkin dialah yang sering dikatakan orang sebagai pemimpin alami, pemimpin yang dilahirkan. Anak kedua dikatakan orang sebagai pemimpin yang dibentuk. Tadinya ia sama sekali tidak menunjukkan kualitas pemimpin, namun dengan pelatihan, pembentukan, akhirnya ia mampu juga menjadi pemimpin efektif.
Pertanyaan apakah pemimpin dilahirkan atau dibentuk selalu saja ditanyakan orang. Pada waktu saya menulis buku ini, saya juga mendapat pertanyaan serupa. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan itu dengan di sana-sini merujuk pendapat para ahli.
Ada satu gagasan yang dianggap benar oleh banyak orang tentang kepemimpinan, yaitu pemimpin dilahirkan. Pemimpin terlahir mungkin karena kejadian tertentu, ada kekuatan tertentu yang mengakibatkan lahirnya seorang pemimpin. Contoh, banyak orang tidak tahu faktor apa yang menyebabkan seorang bekas guru bisa menjadi jenderal dan mampu memimpin perang gerilya secara efektif seperti Jenderal Soedirman? Atau, siapa yang mengira seorang karyawan pada galangan kapal akhirnya bisa menjadi pemimpin negara seperti Lech Walesa? Masih banyak lagi contoh-contoh tentang munculnya pemimpin karena ada kejadian tertentu.
Melalui pendalaman jurnal dan buku-buku serta pengalaman saya sendiri, saya berani dengan tegas menjawab pertanyaan, “Apakah pemimpin dilahirkan atau dibentuk? Jawab saya, “YA, ANDA BENAR.” Tidak memuaskan? Baik, marilah kita bahas masalah ini secara pelan-pelan. Jika orang percaya bahwa pemimpin dilahirkan, mengapakah orang begitu banyak ikut pelatihan kepemimpinan? Apakah mereka hanya karena disuruh oleh manajer SDM-nya saja lalu mereka ikut pelatihan kepemimpinan?
Mari kita lihat orang yang mempercayai pemimpin dilahirkan. Jika orang ini percaya seperti itu, maka hal ini akan menjadi model mental orang itu. Pelatihan yang anda ikuti pun tidak akan banyak gunanya, toh, anda tetap mempercayai pemimpin dilahirkan. Ketika ada kesempatan atau peristiwa tertentu yang menuntut anda menjadi pemimpin, anda akan cenderung menghindari, jika anda percaya anda tidak terlahir sebagai pemimpin.
Sekali anda meyakini betul anda terlahir bukan sebagai pemimpin, maka anda akan kehilangan banyak kesempatan yang sebenarnya bisa mengembangkan kapasitas kepemimpinan anda. Contoh, pemimpin di bagian anda dipindahkan ke tempat lain. Lowongan yang kosong itu, kata manajemen puncaknya, akan diisi oleh orang-orang yang berprestasi di bagian itu.
Anda adalah seorang yang berprestasi, dan tentu anda punya peluang untuk menggantikan pejabat itu. Jika anda mempercayai anda bukan terlahir sebagai pemimpin, inilah yang terjadi. Anda tidak percaya anda akan terpilih, toh selama ini anda bekerja sebagai staf terus.
Kepercayaan anda untuk tidak terpilih demikian besar sehingga manajemen puncak pun terpengaruh untuk tidak memilih anda. Inilah yang dinamakan dengan self fulfiling prophecy, yaitu ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya. Jika kepercayaan itu anda pegang terus, peluang anda untuk dipromosikan akan makin kecil. Karena anda terlewat dari promosi, hal itu akan makin memperkuat kepercayaan anda bahwa anda bukanlah terlahir sebagai pemimpin.
Sekarang andaikata anda ternyata terpilih sebagai pejabat pengganti. Anda mungkin heran mengapa anda sampai terpilih? Sudah gilakah mereka? Atau sudah habiskah calon yang lebih baik dibanding anda? Begitu anda dipilih, dan anda masih memegang teguh kepercayaan bahwa anda bukanlah terlahir sebagai pemimpin, maka anda kemudian tidak mengembangkan diri. Modal anda untuk memimpin tidak anda tingkatkan. Lagi pula mengapa harus ditingkatkan, bukankah anda percaya hal itu tidak ada manfaatnya?
Karena anda tidak berkembang, akhirnya kinerja bagian anda jatuh, dan anda dalam waktu singkat akan diganti. Ketika anda diganti, hal itu semakin menguatkan keyakinan anda bahwa anda bukanlah seorang pemimpin. Begitu seterusnya, dan anda akan terlewat terus dari kesempatan yang ditampilkan oleh kehidupan anda.
Jika anda memilih keyakinan pemimpin dapat dididik dan dibentuk, maka anda siap untuk meningkatkan kemampuan anda memimpin. Anda sudah yakin, cepat atau lambat atasan anda akan diganti. Anda kemudian mempersiapkan diri. Buku-buku kepemimpinan anda baca. Anda mengamati pemimpin-pemimpin yang unggul, anda melakukan refleksi-refleksi pelajaran-pelajaran kepemimpinan yang anda reguk dalam kehidupan anda selama ini. Anda secara perlahan mulai mengembangkan watak-watak anda menjadi lebih baik, lebih sabar, lebih peduli kepada orang lain dan sebagainya.
Ketika pemimpin itu diganti, anda mempunyai kesempatan yang besar untuk menggantikannya. Dan ketika anda sudah menjadi pemimpin, anda sudah punya bekal yang cukup untuk memimpin. Persiapan yang selama ini anda lakukan sudah memberi anda modal awal untuk jadi pemimpin.
Begitu anda mulai bisa memimpin dengan baik, tiba-tiba anda mempunyai keyakinan baru, anda mungkin terlahir sebagai pemimpin. Ketika anda mempercayai keyakinan ini, anda kemudian terus mengembangkan “bakat baru” yang baru saja anda temukan itu. Anda kembangkan kepemimpinan anda terus menerus, dan akhirnya anda benar-benar menjadi pemimpin yang efektif. Sekali lagi terjadi  self fulfiling prophecy, keyakinan anda yang baru  ternyata sudah terbukti, anda ternyata pemimpin yang “terlahir”.
Ketika kita bicara masalah pemimpin yang terlahir, marilah kita anggap saja bahwa itu adalah bakat bawaan. Teman saya yang jadi makelar bis di atas, ia memiliki bakat bawaan memimpin. Namun karena bakat tadi tidak sempat dikembangkan, bakat tadi akhirnya tenggelam dan tidak muncul ke permukaan.
Pertanyaannya, apakah dia bisa menjadi pemimpin yang lebih efektif jika ia juga dilatih secara benar? Menurut saya, ya, ia bisa jadi pemimpin yang lebih efektif. Ia jelas sudah mempunyai bawaan alam sebagai pemimpin, dengan belajar prinsip-prinsip kepemimpinan, ia akan tampil menjadi pemimpin unggul.
Ini sama saja dengan seseorang yang memiliki bakat musik. Begitu bakatnya dikembangkan, tidak mustahil ia akan jadi pemusik hebat. Namun jika tidak dikembangkan, ia mungkin hanya jadi pemusik untuk menghibur dirinya sendiri.Bagi orang yang tidak memiliki “bakat bawaan” sebagai pemimpin, jangan berkecil hati. Orang itu pasti bisa dikembangkan menjadi pemimpin efektif.
Sebenarnya, para ahli sudah memikirkan sejak dulu tentang bagaimana cara membentuk seseorang menjadi pemimpin yang unggul. Penelitian demi penelitian dilakukan agar orang “biasa” dapat menjadi pemimpin yang baik. Namun hasil akhirnya akan jadi lebih hebat jika orang yang sudah memiliki bakat akhirnya juga belajar prinsip-prinsip kepemimpinan yang unggul.
Saya mulai dengan premis bahwa fungsi seorang pemimpin adalah untuk menciptakan lebih banyak lagi pemimpin, bukan malah lebih banyak yang tetap menjadi pengikut”
- Ralph Nader
Inilah sesungguhnya titik tolak kepemimpinan transformasional. Anggapan dasarnya adalah, orang pada dasarnya bukanlah pemimpin alami. Orang dianggap belum mampu memimpin secara efektif. Orang akan menjadi pemimpin unggul jika ia menerapkan prinsip-prinsip kepemimpinan transformasional. Jika orang itu sudah mempunyai bakat memimpin, maka kepemimpinannya akan menjadi jauh lebih unggul dan efektif.
Jadi apakah anda mempunyai bakat atau tidak dalam memimpin, jangan kecil hati. Anda pasti bisa menjadi pemimpin cemerlang jika anda rajin menerapkan prinsip-prinsip kepemimpinan transformasional ini. Janganlah anda ragu, ratusan, bahkan mungkin ribuan penelitian telah membuktikan keunggulan gaya kepemimpinan ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar